Arsitektur akar bibit kelapa sawit yang diinokulasi beberapa cendawan mikoriza arbuskula Root architecture of oil palm seedling inoculated with selected arbuscular mycorrhizal fungi

Happy WIDIASTUTI, Edi GUHARDJA, Nampiah SUKARNO, Latifah KOSIM DARUSMAN, Didiek Hadjar GOENADI, Sally SMITH

Abstract


Summary

 

Oil palm is mostly cultivated in acid soil. The growth constraint of plant in acid soil is the limited availability of phosphorus (P) nutrient. Improvement of root system morphology and architecture have an important aspect since P is immobilized nutrient. Colonization of oil palm by rrbuscular mycorrhizal fungi increase the P uptake of plant. However, there is no information related to the effect of AM fungal colonization on oil palm root morphology and architecture.        A research has been conducted to asses the effect of colonization of two species of AM fungi on root system morphology and architecture of oil palm seedling. The research was conducted using Cikopomayak acid soil as medium in simple glass chamber. The plant material was from Indonesian Oil Palm Research Institute, Medan while AM fungal inoculum was produced using pot culture. Six treatments assesed are combination of three levels of  AM fungi inoculation (without inoculation with, Acaulospora tuberculata and Gigaspora margarita) and two levels of  fertilization (without, and with fertilizer). The result showed that colonization of AM fungi could change the root system morphology, and root architecture. The root fresh weight, root dry weight, length, and volume were significantly higher with the AM fungi colonization especially A. tuberculata inoculation. However, specific root weight was not significantly different between inoculated and uninoculated. The enhancement was significantly observed 26 weeks after inoculation. Biside that, proportion of secondary root of oil palm inoculated with AM fungi was higher compared to primary root. Fertilization tend to reduced root growth. Fertilization reduced significantly root shoot ratio of inoculated as well as uninoculated seedlings. The rooting volume was higher in inoculated seedling compared to uninoculated. The highest enhancement of N, P, and K uptake was observed 26 weeks after inoculation. The better root morphology and architecture might be one mechanisms of AM fungi colonized oil palm seedlings in increasing P uptake. 


Ringkasan

 

Umumnya tanaman kelapa sawit ditanam pada tanah masam. Hambatan pertumbuhan tanaman pada tanah masam adalah terbatasnya ketersediaan nutrisi P (fosforus). Oleh sebab itu perbaikan sistem morfologi dan arsitektur akar memiliki aspek yang penting disebabkan P merupakan nutrisi yang tidak mudah bergerak. Kolonisasi tanaman kelapa sawit dengan cendawan  mikoriza arbuskula (CMA) akan meningkatkan penyerapan P oleh tanaman.  Namun, hubungan antara simbiosis  CMA dengan arsitektur perakaran kelapa sawit belum diketahui. Penelitian ini dilakukan untuk mempelajari pengaruh kolonisasi dua spesies CMA pada sistem morfologi dan arsitektur akar bibit tanaman kelapa sawit. Percobaan  dilakukan menggunakan tanah masam Cikopomayak yang mengandung Al tinggi sebagai medium dalam kultur pot kaca yang sederhana. Kecambah kelapa sawit berasal dari Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS), Medan,  sedangkan inokulum CMA diproduksi menggunakan kultur pot. Enam perlakuan yang diuji merupakan kombinasi tiga jenis inokulasi CMA ( tanpa inokulasi, inokulasi dengan Acaulospora tuberculata dan Gigaspora margarita) serta dua tingkat pemupukan (tanpa, dan dengan pemupukan). Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa inokulasi CMA merubah sistem morfologi dan arsitektur perakaran. Bobot basah, bobot kering, panjang dan volume akar nyata lebih tinggi pada tanaman yang dikolonisasi CMA khususnya A. tuberculata. Namun berat akar spesifik tidak beda nyata antara yang diinokulasi dan tanpa inokulasi. Peningkatan berat akar sangat nyata setelah 26 hari diinokulasi. Di samping itu proporsi akar sekunder lebih tinggi dibandingkan dengan akar primer pada  tanaman kelapa sawit yang diinokulasi CMA. Pemupukan pada umumnya menurunkan pertumbuhan akar dan secara nyata menurunkan nisbah akar pucuk. Volume perakaran lebih besar pada bibit kelapa sawit yang diinokulasi dibandingkan dengan yang tidak diinokulasi.  Peningkatan serapan  N, P,  dan  K tertinggi teramati 26 minggu setelah inokulasi. Morfologi perakaran yang lebih baik demikian pula arsitektur perakaran mungkin merupakan mekanisme bibit kelapa sawit bermikoriza dalam meningkatkan serapan P.



Keywords


Arbuscular-mycorrhizal fungi, oil palm, root architecture, Elaeis guineensis Jacq

Full Text:

PDF


DOI: http://dx.doi.org/10.22302/iribb.jur.mp.v71i1.182

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2016 Jurnal Menara Perkebunan

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NoDerivatives 4.0 International License.

CALL FOR PAPERS:

Menara Perkebunan sebagai media komunikasi penelitian di bidang Perkebunan membuka peluang kepada peneliti, akademisi untuk memuat tulisan:
- hasil penelitian orisinil,
- pengembangan teknologi,
- review/ulasan tentang bioteknologi dan bioindustri serta aplikasinya pada bidang pertanian, kesehatan dan lingkungan serta aspek bioteknologi yang lain.

MENARA PERKEBUNAN Indexed by:
 

Content on this site is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International Public License

ADDRESS:

INDONESIAN RESEARCH INSTITUTE FOR BIOTECHNOLOGY AND BIOINDUSTRY
PT. RISET PERKEBUNAN NUSANTARA
Jl. Taman Kencana No. 1, Bogor 16128. Telp. 0251-8324048/8327449. Fax. 0251-8328516
E-mail : menaraperkebunanppbbi@gmail.com http://mp.iribb.org