Pengaruh biostimulan terhadap pertumbuhan vegetatif dan produktivitas tanaman tebu varietas PSJT-Effects of biostimulants on vegetative growth and productivity of sugarcane variety PSJT-941 grown in polybag941 di dalam polibeg (Effects of biostimulants on vegetative growth and productivity of sugarcane variety PSJT-941 grown in polybag)

Soekarno Mismana Putra, Paramitha Susanti, Dian Mutiara Amanah, Binti Khurotul Umahati, Saptowo Jumali Pardal, Djoko Santoso

Abstract


Abstract

A plant biostimulan made of local seaweed, Citorin, has been developed and tested increase productivity some seasonal crops such as rice, maize, soybean, chilli and onion. The research aimed to evaluate the effects of the biostimulant application on vegetative growth and productivity of sugarcane varieties PSJT-941 in polybag. The biostimulant was applied at three different stages of development of the sugarcane. With or without the addition of humic acid based biostimulan or mycorrhiza. Biostimulant-R was applied at the time the cane seedlings just before planted by by soaking in 100 ppm biostimulan for overnight, plant sugarcane leaves sprayed aged 1 month to 10 ppm Biostimulant-S much 25 ml per plant, 4 months old foliar sprayed with Biostimulant-S 10 ppm as 120 ml per plant. Of the six treatments (P2 - P7) used all showed better vegetative growths that than the control plants without biostimulan (P1). The best treatment was P3, the rise in the average height of the plants reached 13%, which is a combination of soaking and spraying Biostimulant-S 10 ppm. The following best were the treatment of P6 and P5 those were using a combination of humic acid based biostimulan plus mycorrhiza, and humic acid without mycorrhizae. Likewise, its influence on the number of tillers, P3 is the best treatment by enhancing the number of tillers on average 26% higher than the control. Next was P5 and P6. Meanwhile the influence on the average weight of harvested sugarcane, the best treatment is P7 reached 1.25 kg / per sugarcane or increased 47.1%. Next is the treatment of P4 and P6. As for the effect on the sugar content, the best treatment is P4 reached 11.2 % Bix per sugarcane or increased 13.1 %. Next is the treatment of P5 and P7. Based on the results of the assessment scoring system of three parameters the rooting, weight and sugar yield, the best treatment is the treatment of P5 and P4 P7 later, each with a total score of 13, 12, and 10.

 

[Keywords: Plant biostimulants, productivity, sugar yield, Saccharum officinarum]

Abstrak

Biostimulan tanaman berbasis rumput laut lokal, Citorin, telah dikembangkan dan diuji meningkatkan produktivitas beberapa tanaman pangan semusim antara padi, jagung, kedelai, cabe, dan bawang merah. Tujuan penelitian ini adalah meneliti pengaruh aplikasi biostimulan tersebut pada pertumbuhan vegetatif dan produktivitas tanaman tebu varietas PSJT-941 di polibeg. Biostimulan diaplikasi pada tiga tingkat perkembangan yang berbeda dari tanaman tebu. Dengan atau tanpa penambahan biostimulan berbasis asam humat atau mikoriza, Biostimulan-R, diaplikasikan pada saat bibit tebu yang akan ditanam, direndam terlebih dahulu dalam dosis 100 ppm selama semalam, tanaman tebu umur 1 bulan disemprot daun dengan Biostimulant-S 10 ppm sebanyak 25 ml per tanaman, umur 4 bulan disemprot daun dengan Biostimulan-S 10 ppm sebanyak 120 ml per tanaman. Dari enam perlakuan (P2 – P7) yang digunakan semuanya menunjukkan pertumbuhan vegetatif yang lebih baik daripada tanaman kontrol tanpa biostimulan (P1).  Terhadap tinggi tanaman tebu umur perlakuan terbaik adalah P3, kenaikan tinggi rata-rata tanaman mencapai 13%, yaitu kombinasi perendaman dalam Biostimulan-R 100 ppm dan penyemprotan Biostimulan-S 10 ppm. Yang berikutnya adalah perlakuan P6 dan P5 yaitu menggunakan kombinasi biostimulan berbasis asam humat plus mikoriza, dan asam humat tanpa mikoriza. Demikian juga pengaruhnya terhadap jumlah anakan, perlakuan P3 adalah yang terbaik dengan peningkat jumlah anakan rata-rata mencapai 26% lebih tinggi daripada kontrol. Berikutnya adalah P5 dan P6. Sementara itu pengaruhnya terhadap rerata bobot batang tebu dipanen, perlakuan terbaik adalah P7 mencapai 1,25 kg/per batang atau naik 47,1%. Berikutnya adalah perlakuan P4 dan P6. Adapun pengaruhnya terhadap kandar gulanya, perlakuan terbaik adalah P4 mencapai 11,2 % Brix atau naik 13,1%. Berikutnya adalah perlakuan P5 dan P7.  Berdasarkan hasil penilaian dengan sistem skoring dari 3 parameter perakaran, bobot panen dan rendemen gula, maka perlakuan terbaik adalah perlakuan P7 kemudian P5 dan P4, masing-masing dengan skor total 13, 12, dan 10.                                 

 

[Kata kunci:  Biostimulan tanaman, produktivitas, rendemen gula, Saccharum officinarum]


Full Text:

37-43 PDF


DOI: http://dx.doi.org/10.22302/iribb.jur.mp.v85i1.241

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2017 E-Journal Menara Perkebunan

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NoDerivatives 4.0 International License.

MENARA PERKEBUNAN Indexed by:
 

Content on this site is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International Public License

ADDRESS:

INDONESIAN RESEARCH INSTITUTE FOR BIOTECHNOLOGY AND BIOINDUSTRY
PT. RISET PERKEBUNAN NUSANTARA
Jl. Taman Kencana No. 1, Bogor 16128. Telp. 0251-8324048/8327449. Fax. 0251-8328516
E-mail : admin@iribb.org http://www.iribb.org